Untuk Adek Ku Sayang

Megahnya Hidup diatas Sunnah

  • Radio-Radio Sunnah

  • Dakwah Islam


  • Suara-Suara Merdu

    english_r1_c11
    Kajian.Net

  • Laman

  • Berlangganan

  • CARA YANG TEPAT UNTUK MEWUJUDKAN KEPEMIMPINAN YANG ADIL

    Posted by blogpribadiku pada 29 Januari 2010

    Oleh: Ustadz Abu Ahmad Said Yai, Lc.

    Sedih rasanya melihat masyarakat kita, di dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya. Mereka terlihat sangat jauh dari nilai-nilai agama. Padahal, ketika salah seorang dari mereka ditanya tentang apa agama yang dianutnya, maka dia akan menjawab dengan spontan, “Agama saya adalah Islam.”. Begitu pula ketika kita berbicara masalah politik dan pemerintahan, hampir tidak terdengar sedikit pun ayat-ayat Al-Qur’aan dan hadiits-hadiits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam keluar dari lisan-lisan mereka.

    KESEMPURNAAN AGAMA ISLAM

    Agama Islam adalah agama yang sangat sempurna. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan. Bahkan, Islam telah mengatur dan menjelaskan tata cara buang air. Dengan demikian, bagaimana mungkin Islam tidak berbicara masalah perpolitikan? Bagaimana mungkin Islam tidak mengatur cara yang  tepat untuk mewujudkan kepemimpinan yang adil? Ini adalah sesuatu yang sangat mustahil.

    Allah ta’aala berfirman:

    Artinya: “Dan kami turunkan kepadamu Al-Kitaab (Al-Qur’aan) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS An-Nahl: 89)

    BAGAIMANA CARANYA?

    Di masyarakat kita ada dua kubu kaum muslimin yang berjuang dan menghabiskan waktunya untuk mewujudkan kepemimpinan yang adil. Kubu yang pertama terdiri dari orang-orang yang menghalalkan politik nonislami atau paling tidak berkecimpung di dalamnya. Sedangkan kubu yang kedua terdiri dari orang-orang yang menghalalkan darah para pemerintah atau paling tidak berusaha menggulingkan mereka.

    Yang mana di antara kedua kubu ini yang sesuai dengan syariat? Jika kedua kubu tersebut tidak sesuai dengan syariat, bagaimana seharusnya sikap yang kita ambil?

    MELIRIK SEJARAH

    Sebelum menjawab dua pertanyaan di atas ada baiknya kita melirik ke masa lalu di mana Rasuulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mulai berdakwah hingga akhirnya tercipta sebuah daulah islamiah, karena beliau adalah suri teladan kita.

    Rasuulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam diutus di tengah-tengah kaum yang sangat buruk agama, masyarakat dan perpolitikannya. Akan tetapi, belum pernah terdengar oleh kita bahwa beliau, ketika berada di Mekkah, berusaha untuk memberontak, mengambil kekuasaan atau menggunakan cara-cara licik untuk menggulingkan atau membunuh pemimpin-pemimpin kaum musyrikin Mekkah. Mengapa Rasuulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak menggunakan cara tersebut? Jawabannya adalah karena cara tersebut bukanlah cara yang tepat.

    Ketika Rasuulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah berdakwah dengan terang-terangan dan sudah mulai banyak orang yang masuk Islam, kaum Quraisy mengutus ‘Utbah bin Rabi’ah untuk membujuknya. ‘Utbah bin Rabi’ah berkata kepadanya,

    (وإن كنت تريد شرفا سودناك علينا حتى لا نقطع أمرا دونك وإن كنت تريد ملكا ملكناك علينا)

    Artinya: “Jika kamu menginginkan kedudukan maka kami akan menjadikanmu sebagai tuan kami, sehingga kami tidak akan memutuskan suatu perkara tanpamu. Jika kamu menginginkan kerajaan, maka kami akan menjadikanmu sebagai raja kami.”[1]

    Apakah Rasuulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menerima tawaran itu? Jawabannya adalah tidak. Mengapa Rasuulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak menerimanya? Padahal dengan demikian, sepertinya beliau bisa berdakwah dengan menggunakan kekuasaannya. Jawabannya adalah karena cara tersebut bukanlah cara yang tepat.

    Sebagai buktinya adalah raja Najasy rahimahullah yang telah masuk Islam. Kendati sudah berada di tampuk kepemimpinan, tetap saja kekuasaannya tidak bisa dipergunakan untuk merubah masyarakatnya.

    Beda halnya ketika Rasuulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berada di Madinah, Kaum muslimin pada saat itu cukup banyak dan memiliki kekuatan iman, sehingga dengan mudahnya Rasuulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengatur mereka dan membentuk sebuah daulah islamiah, yaitu daulah yang sangat kita damba-dambakan untuk sekarang ini.

    KESOLEHAN PEMERINTAH TERGANTUNG KEPADA KEADILAN DAN KESOLEHAN MASYARAKATNYA

    Ketahuilah ikhwatii fillaah! Keadilan dan kesolehan pemerintah tergantung kepada keadilan dan kesolehan masyarakatnya. Berlaku hukum sebanding dalam hal ini. Jika masyarakatnya tidak adil dan tidak soleh, bagaimana mungkin mereka mengharapkan pemerintah yang adil dan soleh?

    Cobalah kita renungi ayat-ayat berikut ini:

    Allah ta’aala berfirman:

    Artinya: “Dan demikianlah kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menguasai sebagian yang lain disebabkan apa-apa yang mereka usahakan.” (QS Al-An’aam: 129)

    Ayat ini sangat jelas menerangkan seperti apa yang penulis katakan di atas.

    Allah ta’aala berfirman:

    Artinya: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri maka Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah), tetapi mereka melakukan kefasikan dalam negeri itu, maka sepantasnya berlaku terhadap perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS Al-Israa’: 16)

    Ayat ini sangat jelas menerangkan bahwa kefasikan masyarakat suatu negeri bisa membinasakan negeri tersebut.

    Allah ta’aala berfirman:

    Artinya: “Dan (penduduk) negeri itu telah kami binasakan ketika mereka berbuat kezaliman.” (Al-Kahfi: 59)

    Begitu pula hadiits ini:

    عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى نَتْرُكُ الأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْىَ عَنِ الْمُنْكَرِ قَالَ « إِذَا ظَهَرَ فِيكُمْ مَا ظَهَرَ فِى الأُمَمِ قَبْلَكُمْ ». قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا ظَهَرَ فِى الأُمَمِ قَبْلَنَا قَالَ « الْمُلْكُ فِى صِغَارِكُمْ وَالْفَاحِشَةُ فِى كِبَارِكُمْ وَالْعِلْمُ فِى رُذَالَتِكُمْ ».

    Artinya: “Dari Anas bin Malik radhiallaahu ‘anhu dia berkata, “Rasuulullaah pernah ditanya, “Ya Rasuulullaah! Kapankah amar ma’ruf dan nahi mungkar akan kami tinggalkan? Beliau bersabda, “Jika tampak di tengah-tengah kalian apa-apa yang tampak di tengah-tengah umat-umat sebelum kalian.” Kami pun bertanya, “Ya Rasuulullaah! Apa yang tampak di tengah-tengah umat sebelum kami?” Beliau berkata, “(Ketika) kerajaan/kekuasaan berada di tangan anak-anak muda di antara kalian[2], perbuatan-perbuatan faahisy (dosa besar) dilakukan oleh orang-orang yang tua di antara kalian[3] dan ilmu disebarkan oleh orang yang hina di antara kalian[4].”[5]

    Hadiits ini menjelaskan keterkaitan antara perbuatan dosa dan amar ma’ruf nahi mungkar. Ketika amar ma’ruf nahi mungkar sudah ditinggalkan, maka ini menjadi tanda kebinasaan suatu kaum.

    Berkata Al-Waliid Ath-Tharthuusi rahimahullaah, “Sampai sekarang masih terdengar orang-orang berkata, “Amalan-amalan kalian adalah pekerja-pekerja kalian.”. Sebagaimana kalian sekarang ini maka seperti itulah kalian akan dipimpin. Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat yang semakna dengan ini (QS Al-An’aam: 129/seperti telah disebutkan di atas)…Berkata Abdulmalik bin Marwaan, “Ya masyarakatku, bersikap adillah kepada kami! (Bagaimana mungkin) kalian menginginkan dari diri-diri kami seperti yang dijalankan oleh Abu Bakar dan Umar, sedangkan kalian tidak mengerjakan seperti apa-apa yang mereka amalkan?”[6]

    Setelah kita mengetahui bahwa kesolehan dan keadilan pemerintah tergantung pada kesolehan dan keadilan masyarakatnya, maka tidak ada jalan lain untuk mewujudkannya kecuali dengan mengadakan perubahan terhadap masyarakatnya.

    PENGABARAN NABI TENTANG KEADAAN UMAT DI MASA YANG AKAN DATANG DAN CARA MENGATASINYA

    Keadaan masyarakat kita sekarang ini sudah dikabarkan oleh Rasuulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula bagaimana cara penyelesaiannya.

    Rasuulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    « إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ »

    Artinya: “Jika kalian berjual beli dengan cara ‘iinah[7] dan mengambil ekor-ekor unta serta kalian telah rida dengan pertanian[8] dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kepada kalian kehinaan. Allah tidak akan menghilangkannya sampai kalian kembali kepada agama kalian.”[9]

    Rasuulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    «فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ ، وَلَكِنِّى أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ قَبْلَكُمْ ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا ، وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ »

    Artinya: “Demi Allah! Bukanlah kemiskinan yang aku takutkan dari diri kalian. Akan tetapi, aku takut jika dunia dilapangkan kepada kalian, sebagaimana dilapangkan kepada  umat-umat sebelum kalian, sehingga kalian berlomba-lomba (untuk mendapatkannya) sebagaimana mereka dulu berlomba-lomba dan dunia itu akan menghancurkan kalian sebagaimana menghancurkan mereka.”[10]

    Rasuulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    « يُوشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمُ الأُمَمُ مِنْ كُلِّ أُفُقٍ كَمَا تَدَاعَى الأُكَلَةُ عَلَى قَصْعَتِهَا ». قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمِنْ قِلَّةٍ بِنَا يَوْمَئِذٍ قَالَ « أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنْ تَكُونُونَ غُثَاءً كَغُثَاءِ السَّيْلِ يَنْتَزِعُ الْمَهَابَةَ مِنْ قُلُوبِ عَدُوِّكُمْ وَيَجْعَلُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». قَالَ قُلْنَا وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الْحَيَاةِ وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ »

    Artinya: “Sebentar lagi umat-umat (agama lain) akan menyerbu kalian  dari segala penjuru sebagaimana orang-orang yang makan menyerbu piring makannya. Kami pun bertanya, “Apakah jumlah kami sedikit pada saat itu?” Beliau berkata, “Jumlah kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian akan menjadi buih-buih  seperti buih-buih air.  Allah akan mencabut rasa takut atau segan dari hati musuh-musuh kalian serta menjadikan al-wahn di hati-hati kalian.” Kami bertanya, “Apakah al-wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta kehidupan (dunia) dan takut kepada kematian.””[11]

    Hadiits-hadiits di atas menerangkan keadaan kaum muslimin, dimana mereka akan terlena dengan dunia, bodoh dan jauh dengan agama, tidak pernah terbesik di hati-hati mereka untuk berjihad, sehingga Allah akan menjadikan mereka hina dan binasa dan menjadikan musuh-musuh mereka tidak takut dengan mereka. Benarlah apa-apa yang telah disampaikan oleh Rasuulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Semua hal-hal yang disebutkan telah benar-benar terjadi.[12]

    Rasuulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadiits yang di atas juga menjelaskan, bahwa kaum muslimin tidak akan kembali jaya kecuali  mereka kembali kepada agamanya.

    AGAR  KAUM MUSLIMIN KEMBALI KEPADA AGAMANYA

    Bagaimana cara agar kaum muslimin kembali kepada agamanya? Tidak lain adalah dengan mengadakan tashfiyah(pembersihan) dan tarbiyah (pendidikan/pengajaran).[13]

    Syaikh Abdulmalik Ramdhaani hafizhahullaah menjelaskan, “Tashfiyah yaitu membersihkan Islam dari ajaran-ajaran lain yang masuk ke dalamnya dan tarbiyah yaitu mendidik atau mengajarkan Islam yang asli (sebenarnya) kepada manusia, yaitu men-tashfiyah tauhid dari syirik, men-tashfiyah sunnah dari bidah, men-tashfiyah fikih dari pendapat-pendapat baru yang lemah, men-tashfiyah akhlak dari perilaku umat-umat yang binasa dan hina dan men-tashfiyahhadiits-hadiits Nabi yang shahiih dari yang dusta dan palsu…”[14]

    Syaikh Al-Albani rahimahullaah berkata, “Wajib untuk diketahui, mengapa kaum muslimin pada saat ini tidak berhukum dengan hukum Islam kecuali di beberapa daerah saja? Mengapa para dai Islam tidak menerapkan Islam pada diri-diri mereka sendiri sebelum mereka menyuruh orang lain untuk memperaktekkan Islam di negara-negara mereka? Jawabannya cuma satu, yaitu, karena mereka tidak mengenal Islam kecuali secara global saja atau mereka tidak men-tarbiyah diri-diri mereka dan orang lain berdasarkan Islam di dalam kehidupan, akhlak dan muamalah mereka.”[15]

    KENYATAAN YANG PAHIT

    Nikmat menjadi thalibul-ilmi adalah nikmat yang sangat besar. Akan tetapi, sangat sedikit kaum muslimin yang mengetahuinya. Betapa banyak ayat, hadiits dan atsar yang menunjukkan hal itu, sebagaimana tertulis di dalam buku-buku agama.

    Akan tetapi, yang sangat disayangkan orang-orang yang sudah diberi hidayah oleh Allah untuk menuntut ilmu yang hak, yang sudah mempelajari akidah yang benar dan agama yang kuat banyak disibukkan dengan hal-hal duniawi dan politik-politik nonislami. Akibatnya, mereka yang tadinya berdakwah di masjid-masjid dan rumah-rumah, sekarang malah meninggalkan masjid dan masyarakatnya, yang tadinya rajin belajar dan membaca buku di perpustakaan, sekarang malah meninggalkan buku dan perpustakaannya, yang tadinya memakai pakaian yang islami, sekarang malah memakai pakaian nashraani. Suatu kenyataan yang sangat pahit.

    Tidak sedihkah mereka itu melihat keadaan umat ini? Politisi-politisi sangat gampang “dicetak”, teknisi-teknisi sangat mudah “ditelurkan”, dokter-dokter sangat “ringan dimunculkan”, tetapi untuk mencetak para ustadz, para dai dan ulama tidaklah mudah. Kalau bukan mereka, para penuntut ilmu agama, maka siapa lagi yang akan memperbaiki umat ini.

    Allah ta’aala berfirman:

    Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’d : 11)

    KESIMPULAN

    Dengan demikian telah jelaslah yang hak dan yang batil. Kedua kubu di atas tidaklah berada di dalam kebenaran dan tidak sesuai dengan syariat. Dan tidaklah ada cara yang tepat untuk mewujudkan kepemimpinan yang adil kecuali dengan men-tashfiyah dan men-tarbiyah kaum muslimin, sebagaimana yang telah dijelaskan.

    “Permisalan dua kubu tersebut seperti dua orang petani yang mendatangi suatu lahan yang menghasilkan buah yang jelek. Yang satunya menanam tanaman (di lahan itu), setiap kali tanaman itu berbuah matang maka dia potong tanaman itu. Yang satunya lagi menanam tanaman, memperbaiki akar-akarnya dan selalu menyiraminya. Di antara mereka mana yang lebih bagus?” Kata Syaikh Abdulmalik Ramdhani hafidzhahullaah.[16]Jawabannya adalah tidak ada yang bagus. Orang yang kedua kendati menghasilkan buah, maka buahnya bukanlah buah yang bagus, karena lahan yang dipakai tidaklah cocok untuk bercocok tanam.

    SEDIKIT NASIHAT

    Sebagai pencari kebenaran hakiki maka jangan sampai kita mendahulukan ‘aathifah (perasaan) setiap menimbang sesuatu. Mengikuti ‘aathifah merupakan salah satu sebab dimana banyak kaum muslimin mengikuti hawa nafsunya, sehingga pada akhirnya tersesat dari jalan yang benar.

    Berkata Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullaah, “Jika kita ingin membangkitkan kaum muslimin dari tidur dan kelalaiannya, maka kita harus berjalan sesuai dengan jalan-jalan yang tepat dan dengan asas yang kuat. Karena, kita semua menginginkan agar hukum-hukum (yang ada semua kembali) kepada Allah dan kita menginginkan agar agama Allah tegak di atas bumi ini. Ini adalah tujuan yang sangat besar. Akan tetapi, kalau hanya dengan ‘aathifah (perasaan) tidak akan pernah terwujud hal itu. Maka kita harus mengikat ‘aathifah kita dengan syariat dan akal kita.”[17]

    Sekian. Mudah-mudahan bermanfaat. Amin. Tamma bifadhlillaah wa taufiiqih.


    [1] Dihasankan oleh Syaikh Al-Albaani. Lihat ‘As-Siirah An-Nabawiyah fii Dhau’il-mashaadir Al-Ashliyah’ hal. 200

    [2] Maksudnya: mereka dipimpin oleh orang-orang yang tidak berpengalaman.

    [3] Maksudnya: kemaksiatan dilakukan oleh banyak orang sampai-sampai dilakukan pula oleh orang-orang yang tua.

    [4] Maksudnya: ilmu disebarkan oleh orang-orang fasik yang hanya mengharapkan dunia.

    [5] HR Ibnu Maajah No. 4015, Berkata Al-Bushiri, “Isnadnya shahiih rijalnya tsiqaat.” Lihat perkataan Al-Buushirii dan penjelasan hadiits ini di ‘Hasyiah As-Sindi’. Beirut: Daarulma’rifah. Jilid IV hal. 366

    [6] ‘Siraaj Al-Muluuk’ hal. 100-101. Dinukil dari ‘Fiqhussiyaasah Asy-Syar’iah fi Dhau’il-kitaab Was-Sunnah Wa Aqwaal Salafil-ummah hal. 171

    [7] Jual beli yang mengandung riba di dalamnya. Hadits ini berlaku umum terhadap semua penyimpangan di dalam syariat, seperti: Penyimpangan di dalam akidah, ibadah, muamalah, pernikahan, dll. Dan penyebutan ‘inah di sini sebagai perwakilan saja atas penyimpangan-penyimpangan tersebut.

    [8] Maksudnya: cinta dengan dunia dan melalaikan akhirat.

    [9] HR Abu Daawud No. 3462 dan yang lainnya dan di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albaani di Ash-Shahiihah No. 11

    [10] HR Al-Bukhaari No. 3157 dan Muslim No. 2971

    [11] HR Ahmad di Musnad-nya Jilid V hal. 278 dan yang lainnya. Di-shahiih-kan oleh Syaikh Al-Albaani di Ash-Shahihah Jilid II hal  647-648

    [12] Lihat keterangan yang lebih jelas di ‘Badaa’iu Al-Hikam bidzikri Fawaaid Hadiits Tadaa’i Al-Umam’ yang ditulis oleh Syaikh Salim Al-Hilaali.

    [13] Silahkan baca keterangan yang lebih jelas di kitab Ma’aalim Al-Manhaj As-Salafy fit-taghyiir yang disusun oleh Syaikh Al-Albaani

    [14] Dinukil dengan sedikit perubahan dari kitab Sittu Durar min Ushuuli Ahlil-Atsar hal. 102

    [15] Ma’aalim al-manhaj as-salafy fit-taghyiir hal. 30

    [16] Majalah Al-Ishlah edisi ke-5 tahun 1428 H hal. 43 dengan judul ‘Limadza La Yalja’ Ahlus-sunnah fi Ishlahihim ilal-hilli as-siyasi wal-hilli ad-damawi.

    [17] Kitab beliau yang berjudul ‘Ash-Shahwah Al-Islamiyah’ hal. 52

    DOWNLOAD CARA YANG TEPAT UNTUK MEWUJUDKAN KEPEMIMPINAN YANG ADIL

    Sumber : http://kajiansaid.wordpress.com

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

     
    %d blogger menyukai ini: